Skip to content
Tech

Fantasy League World Cup: Aku Setup, Hermes yang Pilih

Eksperimen ringan pakai AI operator buat bantu pilih skuad Fantasy League World Cup: lebih disiplin, minim bias fans, tetap harus diaudit manusia.
6 minutes to read
Hari ini
Zainul Fanani
Fantasy League World Cup: Aku Setup, Hermes yang Pilih
📅 11 Jun 2026🤍0 👁 0 🔗 0

Ada cara baru yang lagi aku coba buat main Fantasy League World Cup: bukan aku yang sok paling jago milih pemain.

Aku cuma bagian setup.

Yang baca data, timbang fixture, mikir risiko rotasi, pilih captain, sampai kasih alasan singkat: Hermes.

Buat yang belum familiar, Hermes ini AI operator yang aku pakai sehari-hari buat kerja teknis, riset, automation, dan sekarang — apparently — eksperimen kecil di dunia fantasy football. Bukan chatbot random yang jawab “pilih Mbappe bro” lalu kabur. Aku kasih konteks, rules, constraint, deadline, dan format output yang jelas.

Sisanya dia kerja sebagai analis.

Dan jujur, ini use case AI yang lebih menarik daripada sekadar bikin caption LinkedIn yang terdengar seperti HRD kena seminar motivasi.

Kenapa pakai AI buat fantasy league?

Karena fantasy football itu lucu.

Di satu sisi, semua orang merasa punya football brain. Kita nonton highlight, baca starting XI, tahu siapa yang lagi hype, lalu yakin keputusan kita paling masuk akal.

Di sisi lain, keputusan fantasy sering bias banget:

  • terlalu percaya pemain favorit,
  • terlalu reaktif sama satu match bagus,
  • lupa fixture difficulty,
  • lupa menit bermain,
  • panik transfer,
  • kebanyakan dengar hype Twitter,
  • atau captain pemain yang “kayaknya bakal meledak” tapi akhirnya blank.

Klasik. Manusia banget. Dan ngeselin.

Nah, AI menarik di sini karena dia bisa dipaksa lebih disiplin. Bukan berarti selalu benar — jelas tidak. Tapi dia bisa jalan pakai framework yang konsisten:

  • peluang starter,
  • kualitas lawan,
  • role pemain,
  • potensi clean sheet,
  • form tim,
  • ceiling poin,
  • risiko rotation,
  • dan value dibanding budget.

Aku tetap manusia yang setup sistemnya. Tapi untuk keputusan lineup, aku sengaja kasih Hermes ruang buat jadi analis utama.

Peranku apa?

Peranku sederhana: bikin sistemnya masuk akal.

Aku kasih Hermes konteks seperti:

  • format fantasy league,
  • aturan scoring,
  • budget,
  • constraint skuad,
  • deadline,
  • daftar pemain,
  • match schedule,
  • dan preferensi strategi.

Lalu output yang aku minta harus langsung actionable. Bukan esai 3.000 kata yang bikin capek sebelum deadline.

Formatnya kira-kira begini:

md
Final pick:
- Captain: Player A
- Vice captain: Player B
- Starting XI: ...
- Bench order: ...

Reasoning:
- Player A punya fixture paling enak dan ceiling tinggi.
- Player B lebih aman dari sisi menit bermain.
- Defender X dipilih karena potensi clean sheet + attacking threat.

Risk:
- Rotation risk di posisi midfield.
- Kalau lineup resmi berubah, perlu adjustment sebelum deadline.

Singkat. Tajam. Bisa langsung dipakai.

Fantasy itu butuh keputusan, bukan tesis.

Bagian paling menarik: AI tanpa ego fans

Menurutku poinnya bukan “AI pasti lebih jago dari manusia”. Itu klaim malas.

Yang menarik adalah: AI bisa jadi sparring partner yang tidak punya ego sebagai fans.

Hermes tidak peduli pemain itu klub favoritku atau bukan. Dia tidak sentimental. Dia tidak ikut hype kalau datanya lemah. Dia bisa diminta menjelaskan tradeoff dengan dingin.

Kalau dia pilih striker tertentu, aku bisa langsung audit:

  • kenapa bukan pemain lain?
  • apa risikonya?
  • seberapa aman menit bermainnya?
  • lawannya high line atau low block?
  • upside-nya cukup nggak dibanding harga?
  • kalau dia blank, keputusan ini masih masuk akal nggak?

Nah, ini yang bikin seru. Fantasy league jadi bukan cuma tebak-tebakan. Ada proses decision-making yang lebih rapi.

Dan kalau Hermes ngawur? Ya bagus. Ketahuan. Kita koreksi framework-nya.

AI bagus sebagai operator, jelek sebagai dukun

Ini batas yang penting.

AI tidak punya bola kristal.

Dia bisa salah baca form. Bisa kelewat berita cedera terbaru. Bisa terlalu percaya data lama. Bisa tidak tahu lineup final kalau tidak dicek dekat deadline.

Makanya workflow-nya harus benar:

  1. Ambil data terbaru.
  2. Buat shortlist.
  3. Pilih skuad awal.
  4. Cek ulang sebelum deadline.
  5. Revisi kalau ada injury, rotation news, atau lineup leak.

Jadi bukan sekali tanya lalu percaya buta.

AI bagus kalau dipakai sebagai operator berpikir. Jelek kalau dipakai sebagai dukun digital.

Kalimat itu perlu ditempel di dinding, serius.

Fantasy league bukan judi

Catatan penting: fantasy league yang aku maksud di sini bukan judi.

Ini permainan strategi berbasis pengetahuan bola, aturan poin, manajemen skuad, dan keputusan mingguan. Tidak ada ajakan taruhan, tidak ada prediksi betting, dan tidak ada dorongan memasang uang.

Buatku ini eksperimen ringan: gabungan antara football, data, AI workflow, dan decision-making.

Kalau ada league internal atau komunitas, tujuannya fun, kompetitif sehat, dan jadi bahan ngobrol.

Bukan gambling.

Kenapa aku tulis ini?

Karena ini salah satu use case AI yang terasa kecil, personal, tapi nyata.

AI dipakai untuk mengambil keputusan dengan constraint jelas, deadline jelas, dan hasil yang bisa diuji. Kalau pick-nya bagus, kelihatan. Kalau zonk, juga kelihatan.

Justru di situ serunya.

Untuk World Cup Fantasy League kali ini, aku akan biarkan Hermes jadi otak analisnya.

Aku setup sistem. Aku kasih konteks. Aku audit kalau dia mulai halu.

Sisanya, kita lihat di klasemen.

Kalau menang, Hermes boleh sombong sedikit.

Kalau kalah, ya tetap salah aku juga — karena aku yang hire dia.

Ada Pertanyaan? Yuk Ngobrol!

Butuh bantuan setup OpenClaw, konsultasi IT, atau mau diskusi project engineering? Book a call langsung — gratis.

Book a Call — Gratis

via Cal.com • WITA (UTC+8)

Newsletter

Subscribe to Newsletter

Artikel baru, automation notes, dan engineering insight. Clean inbox, no spam.

Dengan subscribe, kamu setuju menerima update seperlunya.

F

Zainul Fanani

Founder, Radian Group. Engineering & tech enthusiast.